sering kau bilang juga aku bicara
harusnya kita berjumpa saat pagi masih sisakan embun
tak seperti ini pada tengah matahari yang mulai menggelincir
bagaimana kau nyaman
dalam peluk bahu yang terbungkuk-bungkuk
terbebat oleh rantai kereta perjalanan
dan jemari terpaku logam las tukang jembatan
namun ini bukan sesalan
sayangku, satukan wajahmu
meski kita hanya beradu jidat
setidaknya kita bisa saling menjilati airmata
yang tumpah terperas pilinan libat-libat kehidupan
dan meminum kembali bagi energi hari nanti
disela-sela memecah batu kali di bantaran tepian nya
batu penopang pondok kita, juga rumah-rumah mereka
tidak lain aku hanya butuh bersama hingga mampu
batu-batu berubah mutiara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar