bersila mengungkung diri di keheningani
mengelus ujung jembatan
merenungkan hidup yang telah melintas
menatap turun ke arah jari-jari kakiku
menangkup mihrab di telapak tangan
perlahan-lahan bergoyang-goyang
perasaan sedih terhibur-hibur
namun tak tahu persis mengapa
aku merasa seolah-olah sukma telah lepas
hilang dalam kehidupan hampa keseharian
menatap Karunia dalam cahaya yang unik
pikiranku memusar artistik dengan seluruh kesukaan
mungkin semua terlihat sebagai hitam dan putih
aku memandangi sebagai kaleidoskop warna cerah
ketika seseorang mengangguk dan mengatakan bahwa itu benar
aku berpikir tentang alasan mengapa terjadi
bukan ketenaran atau keberuntungan yang aku cari
bukan juga Pengakuan atau untuk mendaki puncak tertinggi
hanya kuinginkan hati dan fikir yang tenang
merindukan untuk menyenangkan tanpa henti
akupun tetap bersila dan mengosongkan sementara atas hidup
apa yang akan dibuat dari kepergian ku
sudahkah aku menihilkan keberadaan seluruh hidupku
sebuah kehidupan menunggu
satu keajaiban kun fayakun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar