malam yang beringsut ke dinihari memaksaku duduk bersama bayang mu
kau pandangi aku dengan mata yang menumpah ruahkan luka
masih terasa hangat dadamu yang rapat di punggungku
juga tapak jemarimu yang yang lekat di tanganku kala itu
senja tadi menyiratkan kalimah-kalimah yang membuang waktu
kita tak nyaman lagi menapaki kebersamaan, begitu sergahmu
pergilah jika ingin pergi demikian kata-kata yang jatuh ke tanah
saat kau menundukkan wajah
lalu pekik serapah aku dengar dari jiwa yang terluka
maafkan aku, kau terlalu lama belajar kepahitan demi kepahitan
pahamilah aku yang hanya ingin terus mengajakmu berjalan
menunjukkanmu dunia-dunia yang harus lengkap kau tatap
kita hanya harus tetap berjalan menuju horizon,
dan merambati kaki itu menuju langit
meski duri melukai saat kaki menjejak bumi
cadas-cadaslah yang hidup menyertai kita
dan bumi tanah terus memompa lara
dan sepi setia menjaga keperihannya
meski begitu aku tetap mendendangkan namamu
kita sama-sama tahu, duka bahagia bersumber sama
bahkan berbaring berdampingan lekat tanpa sekat
di sini duka, dan bergeser sedikit menggelinding pada bahagia
dari itu lahirlah asa-asa yang menggelembungkan semangat
dengan begitu terus aku tanamkan pohon-pohon
bakal tiang-tiang yang tegakkan rumah kita
mengakar di bebatuan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar