endapan lumpur yang teraduk
apungan sampah terbawa dalam percakapan sungai
di jiwa yang membatu saat kesejukan menawarkan lahan
ladang yang menyemaikan dunia
adakah tulang dalam kelopak kata-katamu
sehingga rasa yang busuk dapat terkikis ketika
engkau tergagap dalam makna
agar kematian tidak menjadi kecemasan
bagi pejuang-pejuang di medan laga
sekarang
jagad yang tumbuh di ladang mu telah menjelma aroma racun
ragamu ikut terombang-ambing ombak yang mengapungkan
menjulur-julur
sembari menjilat bisa yang rontok dari tubuhmu
ku kemas gerimis asam di gerai semesta
saat aku lihat ke lidah-lidah gelombang
nampak syahwatku seperti sekoci
tenggelam, timbul dan tenggelam lagi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar