ketika melangkah dari halaman
rumah yang menjadi gudang sepi
tak ada jabat ucapkan salam
pun lambai membalas lambaian
maka selamat tinggalpun hanya kenangan
yang aku pahat kencang di sebuah batu
dan salam hanya aku benamkan pada prasasti
ragu apakah aku akan kembali pada kesunyianku
salam apa yang aku ucap, tak ada tangan terlambai
tak ada wanita yang menunggu datangmu
hanya ada anak-anak tetangga yang sibuk dengan lompat talinya
ketika tak ada mata lagi, aku telanjangkan diri
lemparkan lembar terakhir kain yang melekat
lalu menantang bintang jatuh di sela bulu mataku
selayaknya kembara yang rindukan pondok
aku citakan ketulusan, ternyata tidak sederhana apa yang terindukan
kangen pada tulus yang mengibar pada lambaian
seiring salam yang aku eja tiap pagi petang
lampu pondok memendar
aku merayu pada riuh topan beliung
agar simpulkan seulas senyum pada kembara melintas
agar dendam atas bosan perjalanan hangus oleh lembut
kini di halaman gudang kesunyian
aku mengeja peta sebuah alamat
dimana aku bisa benamkan batang
dan bertunas meluas, mengakar di situ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar