lebih dekat dengan saya

Foto saya
Jeron Benteng, Yogyakarta, Indonesia
Aku dapat saja sekedar mengucapkannya, tapi dengan menuliskannya akan dapat lebih menjaga keberadaannya

Sabtu, 29 Oktober 2011

April penuh syukur


terima kasih Yogya

terima kasih bunda
yang dengan rahim berdarah-darah saat menghadirkan duniaku
yang dengan rahim kehidupan selalu memeluk semangatku
yang dengan rahimnya ditempatkanku sebagai pangerannya

terima kasih ayah,
yang mengajariku bahwa bahu laki-laki harus sekuat bebatu
yang aku dapat saat berdiri membonceng sepedamu,
yang rela tanganku mengalungi lehermu.

terima kasih guru,
yang membuatku melihat hikmahi dari bongkahan batu
yang membukakan jendela hingga aku melihat dunia
yang mengenalkan padaku pena hati, hingga dapat kutulis puisi

terima kasih ,mbok arjo
yang menyuapkan pengalaman kasih,menyuapiku ketika bunda tak sempat asih
yang mengganti celana basahku karena pipis yang tidak benar.

terima kasih yu tumini,
yang menyiapkanku bisa berjalan jauh.
aku tak dendam saat aku kau bawa pergi minggat jalan kaki
saat kau merasa ibuku marah padamu.
aku tahu kau ingin pergi, tapi kau sangat sayang padaku.

terima kasih pada kakakku,
yang mengenalkan betapa asiknya main bola
yang membuatku mengenal pernikahan
yang membuatku ingin menikah dengan pernikahan kalian
aku belajar dari cara kalian main bola
dan belajar dari kalian hal yang indah, tentang bagaimana cara menikah.

terima kasih pada adik-adikku,
yang percaya aku bisa melindungi dari panas dan hujan
yang menempatkan aku tempat mengadu saat kalian menangis
karena nakalmu yang belagu.

terima kasih kepada kekasih,
yang rela menghadirkan titian warna pelangi
meniti bersama menggapai puncak asmara
cakrawala sutera dewangga
kau mengenakan padaku seolah aku pantas
dengan mahkota raja

terima kasih pada sahabat,
yang membuatku selalu bahagia
dalam kebersamaan,
dalam kesuka-citaan , dalam kesakitan
semua rasa , sama membahagiakannya

terima kasih Allah ,Tuhan, atas segala sumber kebahagiaan

yogya,09042011

orbit kesadaran


oleh siang aku ingin diajari
cara membangkitkan malam demi malam
dengan kesuka-citaan, menghadirkan cahaya
dengan menebar sungging senyuman
serta hangat seruan

saat ini pada malam aku sedang mengaji
bagaimana menyelubungi siang dengan ketenteraman
bagaimana mengundang rembulan, mencemerlangkan bintang
dan menuntun mahluk bertasbih, bertahmid, bertakbir
serangga fasih dalam derik istighfar.

Wahai Engkau, yakinkan aku
bahwa masih ada pagi di depanku
dan sore yang menggantikannya
seperti saat matahari datang,
berputar dalam orbit inti kesadaran
dan tenggelam dengan tenteram
tersenyum senja temaram

langkah sang musim


dinihari penghujan adalah kelahiran
anak-anak begitu manis
dengan jari jemari cerah kecil
melekati kaki dan tangan.
paginya adalah masa kanak-kanak kita
dipenuhi dengan sinar matahari dan hujan.
Ada banyak sukacita dan kebahagiaan
tanpa sakit hati dan kelelahan

Matahari sepenggalah adalah tahun dewasa muda
penuh perubahan dan uji coba.
langkah kita baru mulai
dalam melakukan perjalanan bermil-mil.
siangnya adalah saat
akhir merapat makin dekat.
karena jika kita tahu kita ada
tidak perlu ada yang ditakutkan.

Tak mungkin ada musim panas
tanpa musim penghujan
mereka saling melahirkan
dan tanpa ini
tidak akan berarti apa-apa.
bertemu musim bukanlah waktu untuk cemas.
lewat musim-musim
untuk menjadi satu musim lebih dekat.
hingga bergabung kembali
pada yang mencintai dengan begitu sayang..

titik cahaya


sejauh perjalananku
terasa ada yang tertinggal di antara jejak kita
mungkin karena terlalu sederhananya
sehingga setiap mata terlena
dan telinga tak pernah mendengar apa yang dikatakannya
terbisik oleh gerimis yang jatuh
termenungnya sekuntum bunga yang mengasuh embun
kepak sayap burung di angkasa beserta jejaknya

aku ingin memungut semua itu kembali
dan menyimpannya dalam rekaman
mata yang merabun oleh asap kehidupan
menyerapnya menjadi rerangkai kata sederhana
meski aku bukan pujangga

oh geletar angin maafkan sombongku
maafkan takaburku
menyiibuki ruang-ruang dalam kehidupanku
yang tandus dan kelu
kini biarlah menjadi ruang-ruang yang membuka
di sisa-sisa waktuku
merdeka menghirup terang cahaya
sekalian udara yang dirambatinya
kembali pada kesadaran
bahwa sejatinya hidup hanyalah sederhana
bahwa hanya butuh tersenyum saat matahari pergi.

pinta sederhana

bayang putri temaram melintas
tatapanku atas lenggang pandang
dan geletar selendang pelangimu
membuatku selingkuhi kecintaan atas malam
jangan berterusan terbang
melayang turunlah ke bumiku,
bidadari

Jumat, 28 Oktober 2011

seruan rinduku


di malam yang mulai menggelincir
ngelangutkan angan bertahta batu
melipat waktu yang tertempuh
dan hati yang saling patri

adalah ketika kita sandarkan biduk
cita tentang senja di dermaga
dan gelaran penantian akan panjang
mungkin terkejar di tepi dunia

senggangkan ruang dadamu
agar hati melonggar
menebar semaian kasih
sabar meski tertatih

semoga akhir kisah panjang
adalah kujemput dirimu
bersama memandang pantai
dari bukit di tepiannya.

Kamis, 27 Oktober 2011

Lelaki dan udara


Meskipun udara ingin lembah mengingat udara
dengan cara sama udara mengingat lembah,
tapi tak harus lembah lakukan.
karena sang udara bahagia tidak sebagai penuntut.

begitupun ketika angin mengenang lembah sebagai yang termanis
lembah tak harus mengenang angin sebagai terindah,
kebekuan lembah adalah ungkapan detail ketidak nyamanannya
menarikan tarian kehidupan bersama angin.

biarlah moment-moment bersama mereka
hanya menjadi moment terindah yang hanya bagi udara.
karena melepaskannya adalah bahagia lembah
itu yang udara lihat dan udara dengar
tapi bukan yang udara rasa.
lembah beku butuh mentari
yang manyimpan hangatnya pada udara.

inilah yang aku tangkap
dari celoteh udara yang bertemu aku
sama-sama rebahan di pohon-pohon rimbun kenangan
menampung hangat mentari
demi lumer hati kekasih.

Penjemputan pulang


akan tiba sesaat  lagi
menyelinapi celah pintu
mendekapmu dan bicara 
kematian itu mengembang seirama degub jantung
seiring penulis yang membaca syair
bersama penyanyi yang mendendang
tentara, birokrat, ulama dan wajah riasan-riasan.
akan mendekapmu dari balik pintu
bernadzar datang ke negeri sepi
akan datang di tiap titik perjalanan waktu
menyusup dari lubang pintu dan menyergap
membisikkan penggalan-penggalan :
kematian itu kekangenan atas raga jiwa
kekangenan atas runtuhan air mata
kekangenan atas cinta yang mandah
juga tentang pekikan rintih
ajal itu melibat sukma, menyerobot ruh
mengaduk-aduk kedirian
menepis kesemuan 
merobek-robek jangat, mematah matahkan belulang
risalahku akan datang di setiap daun pintu
mengetuk, menjemput mengiringimu pergi
membebaskanmu dari penjara kefanaan

Satu saat di Pantai Ngobaran


dinding raksasa pantai itu
payung agung kehadiran kita
di rengkuhan bayangnya
kita bersandar batu tertata ukiran alam
menaruh pandang di titik-titik buih
kau kupeluk sempurna di belakang
apa yang kaulihat sayangku
apa yang terbaca olehmu
:
kau jawab
tergambar kecipak tangan
anak-anak kita berenang menuju horizon
menggapai kemerdekaan hati ayah bundanya,
lalu, kau menoleh ke belakang
dan tersenyum
..................
saat menyusuri hutan jati menengok pondok
yang terlihat adalah
pekarangan berpagar cakrawala
dengan panji yang berkibar-kibar
bergambar dua jantung
berdebar bersama seirama

Ku tahu, Kau Yang Ku Mau


sering kau bilang juga aku bicara
harusnya kita berjumpa saat pagi masih sisakan embun
tak seperti ini pada tengah matahari yang mulai menggelincir
bagaimana kau nyaman
dalam peluk bahu yang terbungkuk-bungkuk
terbebat oleh rantai kereta perjalanan
dan jemari terpaku logam las tukang jembatan
namun ini bukan sesalan

sayangku, satukan wajahmu
meski kita hanya beradu jidat
setidaknya kita bisa saling menjilati airmata
yang tumpah terperas pilinan libat-libat kehidupan
dan meminum kembali bagi energi hari nanti
disela-sela memecah batu kali di bantaran tepian nya
batu penopang pondok kita, juga rumah-rumah mereka
tidak lain aku hanya butuh bersama hingga mampu
batu-batu berubah mutiara

Jika tentang rasaku atas mu


jangankan menyusur indah pantai,betina
masuk ke palung terdalampun kuda itu sanggup
ketulusan betina adalah mercusuar hatinya
maka jangan bertanya soal sakit
dibawanya berakit-rakit
ada jawab di sepanjang horizon
mereka bisa lihat bareng di seberangnya
bersama-sama.
terdorong terpatri baka
tak bisa memutar lagi dua-duanya.
bak sepasang merpati menantang petir
dalam indah juga dalam getir
dalam kangen tanpa akhir

tak perlu jawab kapan berakhir

Jeratan Kangen


menderapkan sisa rindu yang bersemayam di rongga
mendegubkan jiwa
aku paham, pujianku terseret dalam cium dan pelukanmu
di jantungmu aku bersemayam
kontemplasi atas riwayat yang tercatat dari pergeseran
bayang-bayang mentari
seperti beringsut butiran tasbeh pada telapak menengadah
mengulang-ulang sumpah yang harus dilahirkan
mengecup hatimu adalah membiuskan segala kebajikan
tak harus berakhir meski senja telah pecah
ketipak kaki kuda menderap dalam kesunyian
mimpi yang selalu mengelayuti hati
menunggu menanti

Imaji Perjamuan


kepada kembara
kutuliskan rasa
lembaran putih dengan pena bergelombang
degub dan denyut setianya
mengelus cadas bebatuan

kepada kembara
mencurah cerita temaram senja
menyelinap di awan dan pecah
di puncak langit tanpa watas
rasa tidak terlepas

kepada kembara
jatuhlah airmata
perih jantung tetap saja bunga
luka bersenyawa oleh cinta
mata menatap
pada sepi yang semakin deras

kepada perjalanan
kurampas waktu
dalam imaji perjamuan
dan itu denganmu

Ratap di Kemarau


kering meluluhlantakkan ladang-ladang
daun-daun dan kelopak bunga meratapi akar
telaga mampet dan sungai menelantarkan pipa-pipa
wahai gadis duhai perawan
mengapa hujan merampok kesejukan
mengapa sumber membuat sarang hilang
kacau musim oleh mendung yang terlambat datang
sehingga mentari pun hanya pemerah waktu
demi tradisi yang pelan tenggelam
dalam kecoklatan

wahai awan-awan
dimana kau belokkan langkah
kembalikan itu telaga
dan balut bumi dengan hijaunya.

Menanamkan Akar


ketika melangkah dari halaman
rumah yang menjadi gudang sepi
tak ada jabat ucapkan salam
pun lambai membalas lambaian
maka selamat tinggalpun hanya kenangan 
yang aku pahat kencang di sebuah batu
dan salam hanya aku benamkan pada prasasti

ragu apakah aku akan kembali pada kesunyianku
salam apa yang aku ucap, tak ada tangan terlambai
tak ada wanita yang menunggu datangmu
hanya ada anak-anak tetangga yang sibuk dengan lompat talinya
ketika tak ada mata lagi, aku telanjangkan diri
lemparkan lembar terakhir kain yang melekat
lalu menantang bintang jatuh di sela bulu mataku

selayaknya kembara yang rindukan pondok
aku citakan ketulusan, ternyata tidak sederhana apa yang terindukan
kangen pada tulus yang mengibar pada lambaian
seiring salam yang aku eja tiap pagi petang

lampu pondok memendar
aku merayu pada riuh topan beliung
agar simpulkan seulas senyum pada kembara melintas
agar dendam atas bosan perjalanan hangus oleh lembut
kini di halaman gudang kesunyian
aku mengeja peta sebuah alamat
dimana aku bisa benamkan batang
dan bertunas meluas, mengakar di situ

Saat Hujan Pertama


endapan lumpur yang teraduk
apungan sampah terbawa dalam percakapan sungai
di jiwa yang membatu saat kesejukan menawarkan lahan
ladang yang menyemaikan dunia
adakah tulang dalam kelopak kata-katamu
sehingga rasa yang busuk dapat terkikis ketika
engkau tergagap dalam makna
agar kematian tidak menjadi kecemasan
bagi pejuang-pejuang di medan laga

sekarang
jagad yang tumbuh di ladang mu telah menjelma aroma racun
ragamu ikut terombang-ambing ombak yang mengapungkan
menjulur-julur
sembari menjilat bisa yang rontok dari tubuhmu
ku kemas gerimis asam di gerai semesta
saat aku lihat ke lidah-lidah gelombang
nampak syahwatku seperti sekoci
tenggelam, timbul dan tenggelam lagi

Senin, 24 Oktober 2011

Relasi Cinta Sepasang Merpati


Banyak orang memuja dan menginginkan relasi cinta seperti merpati, semoga mereka memahami merpati seutuh hidupnya dan tidak sekedar melihat kemesraan dalam bercinta. Memang sangat mencemburukan perilaku pasangan merpati saat sedang memadukan kasih.

Namun cobalah mengamati hal-hal lain yang menjadi perilaku standartnya. Agar kita bisa seimbang dan konsekuen saat mengidolakannya. Apalagi tentang kesetiaan. Mereka hanya terpisah oleh kematian salah satunya. Atau bisa juga karena oleh rudapaksa saat diperbudak manusia

lalu Lihatlah saat-saat mereka mencari ranting dan rumput untuk sarangnya, mereka bersama bersama mengumpulkannya sehelai demi sehelai, dilakukan bersama. Lalu membentuknya menjadi bola setengah lingkaran yang nyaman untuk diri mereka, dan nyaman juga untuk calon anak-anaknya

Kemudian lihatlah juga saat mereka mengerami penetasan telurnya, bergantian mereka memberikan kehangatan bagi generasinya, berbagi tugas. Yang tidak sedang mengerami telurnya, pergi mencari makan untuk menjaga dan membangun kekuatan dirinya, tapi tak lupa juga dia menyediakan sisanya, untuk kemudian menyuapkan kepada anak-anak bayinya, juga terhadap pasangan yang di sarang bertugas mengasuhnya. Bergiliran, bersamaan tanpa membedakan merpati jantan ataupun betina..

Kekuatan cinta dan kemesraan sepasang merpati, diletakkan pada kerasnya perjuangan masing-masing pihak di antara mereka. si jantan dan si betina. Yakni berjuang untuk mengenal, berjuang untuk setia, berjuang untuk kesejahteraan bagi diri dan generasinya.  

Suratku, Bacalah saat kau lelah


Yang terkasih :
Kekasihku terkasih.

Jangan terjebak pada kepedihan yang timbul oleh perjuangan hidup. Jalani dan hadapi saja yang sedang ada di depan kita sekatang. Doronglah setiap gerak oleh kaki dan tangan dengan keikhlasan. Kita merasakan pedih karena kita sering mengasihani diri. padahal rasa kasihan pada diri sendiri hanya timbul ketika kita merasa tidak layak dalam keadaan seperti yang sedang terjadi. Merasa rendah karena dikasihani dengan rasa kasihan ala mereka.

Kekasih
Hidup memang lebih bisa dinikmati kalau kita berpegang pada pedoman yang benar dan hakiki. Bukan menyamankan diri dengan persepsi orang atas kita. Kita memang tidak hidup di ruang hampa. Tetapi menjalani hidup dengan mengacu pada penilaian pribadi-pribadi di luar diri kita hanya akan memicu keinginan-keinginan yang tidak perlu. Karena keinginan-keinginan itu kita lakukan dan kita penuhi karena sekedar mengikuti penilaian orang atas kita.

Kekasih.
Tentunya kamu sangat faham ketika dulu aku mengambil sikap, sebagaimana sikap Ayah bundaku. Hidup apa adanya dan selalu menjadi diri sendiri. melepas segala atribut yang menjebak kita pada tingkah laku yang formalis , ritualistik yang lepas dari esensi. lalu hidup sekedar menjadi seorang hamba, hambaNya. Aku tidak takut menjadi seseorang yang bukan pangeran, tidak takut menjadi miskin. Aku hanya takut menjadi bodoh saat harus membaca isyarat-isyarat Tuhan. 

Maka kekasih
kini aku mengajakmu untuk bergembira menghadapi hidup, apapun yang sedang terjadi. Rasa kehilangan, Rasa kesedihan hanyalah jebakan saat kita menuju jalan kehambaan. apa yang hilang dari kita ? kita memang tidak punya apa-apa bukan ? untuk apa pula sedih, sedangkan masih banyak bekal dari-Nya yang masih melekat pada kita. Kita masih bisa mengabdi kepadaNya dengan segala yang ada dalam diri kita.

Kekasihku
aku akan menemanimu, berjamaah dalam keikhlasan. Insya Allah keikhlasan dalam penghambaan ini akan mengantarkan kita melakukan apa-apa yang seharusnya kita lakukan. soal anugerah ,ganjaran dan karunia. kita tak boleh terlalu berharap. Itu merupakan bonus yang menjadi hak Tuhan untuk memberikan atau tidak memberikan. Semua pilihan menjadi baik jika Tuhan yang menetapkan.

kekasihku, selamat berjuang


Selasa, 18 Oktober 2011

.. 2.... 3.... 4....

tangan siapa yang membalutkan kertas
sehingga irisan-irisan ini tertata bak pipa
setiap hisapan memenuhi langit-lanit kepala
memusar lewati kening mendaratkan tenteram
aroma kental melewati batang saluran
dan paru-paru kembang kempis memompanya
sejenak asap mengepul menyamarkan luka
melingkar lingkar menjauhi bibir yang kusam
hitam kering keracunan.,
aku dengan bodoh menghitung
2.. 3.. 4.. mulai dab berhenti hanya sampai di situ.



Sabtu, 15 Oktober 2011

Reuni Warung Gudeg Wirobrajan


Aku ingat betul,
api yang kamu sematkan 
di dada para mahasiswa, 
bahkan lidahmu juga api. 
dan kala itu penjara adalah kenyamanan. 

Malam ini aku lihat lencana Bintang 
dilingkari entah apa di di atas saku dada kirimu.
Staff Ahli ( bahkan aku makin ragu pada keahlianmu.)
Dan sinar matamu
bukan lagi sinar mata yang dulu-dulu.
Yang aku lihat adalah binar mata yang leleh
mengalir ke lencana mu.
Aku dan teman teman yang lain berduka.
setengah tiang untukmu..

semoga kamu sempat baca ini

Jumat, 14 Oktober 2011

membajak ladang luka


dia merentang tangan dengan kehangatan peluk
sedang di setiap jengkal ragaku
jarum racun terselip rapi tersembunyi
maka tertikam dada orang yang kita cinta

saat ujungnya terbenam ke dalam dada,
terlihat hatinya tersedak mencoba menghirup udara,
coba meraih menggapai-gapai apa saja
menegakkan keberadaannya
menahan perih
wajah kecewa terlanjur pasi
memapar ketidakfahaman keheranan
Melebam sekitar hati terluka, nganga

kesakitan berpanggung di ruang jiwa
mulailah kedalaman luka tanpa darah,
mulai getar yang parah.
pun terjatuh.
Sekarat hati dan mewariskan tanya
" tega nian, sahabat.." dengan tatapannya
Tak terbayang aku mampu melakukannya.

Begitulah, setiap hari, terus dan lagi dan lagi,
menikam orang-orang yang kita cintai.
dengan tajam yang tak terlihat,
ketajaman yang tidak berkilat-kilat.
hati telah menjadi parang yang garang
ladang luka dibuatnya
sama kedalaman dan pedihnya
seperti luka ribuan pisau bajak berujung baja.

terlalu dalam luka yang aku buat

Kamis, 13 Oktober 2011

PATAH HATI


tercekat oleh seorang anak yang berbicara tentang patah hatinya
mengapa harus ada pesona, mengapa harus ada rasa asmara
mengapa ada jenis kelamin yang berbeda pada diri manusia

aku pegang pundaknya
apapun yang ada dan terasa dalam diri kita 
adalah segala sesuatu yang dibekalkannya untuk kita,
agar kita mengelolanya.
jika kita beruntung mengelolanya kita akan menjadi
khalifah yang penuh suka cita.

jika kita diciptakan tiada berbeda-beda
sejarah manusia akan berhenti di kisah adam dan hawa
tak ada lagi kelanjutannya
dan tak akan ada amarnya
bahwa manusia adalah khalifah di bumi-Nya.

dan patah hatimu
hanyalah sebagian kecil persoalan dari masalah manusia
yakni mengelola apa yang telah dibekalkannya

Selamat Pagi

Hitam adalah hitam dan putih harus dikata putih

Makna Bunga


Saat saat aku menatap mawar yang berkembang di latar rumahmu
membayang pada malam yang subur oleh keharuman
aku merasakan ada waktu yang terisi oleh tanah, tumbuh serabut akarnya.
cerita tentang ribuan upaya harus dibongkar untuk menyelipkan kata-kata
yang kau tanamkan di telingaku. 
malam ketika kau daratkan ciuman bertubi-tubi pada bilah-bilah hatiku.

dan hamparan bintang dilayar malam, selimut cahaya angkasa
memeluk memagut lewat mimpi
saat bertumbuhan seroja di tangkai-tangkainya. kalimat janjimu

setiap saat teringat pernah aku berikan melati yang berisi harapan, aku mengunyah-kunyah memori.
lalu memaknai, bahwa bunga itu tetap indah dan bukan sebatas mimpi.

karena mu, hatiku bertumbuh bebungaan warna warni
meskipun terkadang merah menyala berwarna api.

Bertahan untukmu


malam yang beringsut ke dinihari memaksaku duduk bersama bayang mu
kau pandangi aku dengan mata yang menumpah ruahkan luka
masih terasa hangat dadamu yang rapat di punggungku
juga tapak jemarimu yang yang lekat di tanganku kala itu
senja tadi menyiratkan kalimah-kalimah yang membuang waktu
kita tak nyaman lagi menapaki kebersamaan, begitu sergahmu
pergilah jika ingin pergi demikian kata-kata yang jatuh ke tanah
saat kau menundukkan wajah

lalu pekik serapah aku dengar dari jiwa yang terluka
maafkan aku, kau terlalu lama belajar kepahitan demi kepahitan
pahamilah aku yang hanya ingin terus mengajakmu berjalan
menunjukkanmu dunia-dunia yang harus lengkap kau tatap
kita hanya harus tetap berjalan menuju horizon,
dan merambati kaki itu menuju langit
meski duri melukai saat kaki menjejak bumi

cadas-cadaslah yang hidup menyertai kita
dan bumi tanah terus memompa lara
dan sepi setia menjaga keperihannya
meski begitu aku tetap mendendangkan namamu
kita sama-sama tahu, duka bahagia bersumber sama
bahkan berbaring berdampingan lekat tanpa sekat
di sini duka, dan bergeser sedikit menggelinding pada bahagia
dari itu lahirlah asa-asa yang menggelembungkan semangat
dengan begitu terus aku tanamkan pohon-pohon
bakal tiang-tiang yang tegakkan rumah kita
mengakar di bebatuan

Menafsir,Menunggu


bersila mengungkung diri di keheningani
mengelus ujung jembatan
merenungkan hidup yang telah melintas
menatap turun ke arah jari-jari kakiku

menangkup mihrab di telapak tangan
perlahan-lahan bergoyang-goyang
perasaan sedih terhibur-hibur
namun tak tahu  persis mengapa

aku merasa seolah-olah sukma telah lepas
hilang dalam kehidupan hampa keseharian
menatap Karunia dalam cahaya yang unik
pikiranku memusar artistik dengan seluruh kesukaan

mungkin semua terlihat sebagai hitam dan putih
aku memandangi sebagai kaleidoskop warna cerah
ketika seseorang mengangguk dan mengatakan bahwa itu benar
aku berpikir tentang alasan mengapa terjadi

bukan ketenaran atau keberuntungan yang aku cari
bukan juga Pengakuan atau untuk mendaki puncak tertinggi
hanya kuinginkan hati dan fikir yang tenang
merindukan untuk menyenangkan tanpa henti

akupun tetap bersila dan mengosongkan sementara atas  hidup
apa yang akan dibuat dari kepergian ku
sudahkah aku menihilkan keberadaan seluruh hidupku
sebuah kehidupan menunggu
satu keajaiban kun fayakun